APINDOKALTIM.COM – Sektor bisnis property khususnya perumahan di Kaltim khususnya Balikpapan sepanjang tahun 2025 ini dinilai tetap prospektif. Meski situasi pelemahan ekonomi global akibat perang dagang dan perang fisik di berbagai negara cukup berdampak pada dunia usaha nasoional termasuk di Kaltim, namun kondisinya tidak sampai membuat kalangan pengembang atau developer gulung tikar.
Sikap optimis ini dikatakan Ketua Real Estate Indonesia (REI) Komisariat Balikpapan, Andi Arif Mulya Dwi Hartono saat hadir mengisi narasumber program Podcast Apindo Kaltim Channel, Kamis 14 Agustus 2025.
Menurut Direktur Utama PT Himalaya Puncak Buana ini, pelemahan ekonomi global dan tren menurunnya daya beli masyarakat serta kebijakan pemerintah pusat yang cenderung “berubah-ubah”, memang ikut memengaruhi geliat sektor property dan perumahan di daerah.
REI Komisariat Balikpapan yang juga membawahi Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) dan Kabupaten Paser, dikatakan Andi tentu menyiapkan sejumlah strategi, agar para pengembang lokal anggota REI tetap eksis dan bertahan.
“Salah satunya, pola kolaborasi atau sinergi antar anggota dalam membangun suatu kawasan perumahan. Sehingga, anggota yang kebetulan lagi sepi pekerjaan, kami ajak bergabung bersama-sama ikut terlibat dalam kegiatan proyek perumahan di Balikpapan,” ujarnya.
Andi mengungkapkan, setelah perayaan Hut ke-53 REI secara nasional yang dipusatkan di Kaltim beberapa waktu lalu, para pengembang anggota REI di Kaltim memang diingatkan tentang target pemerintah dibawah Presiden Prabowo Subianto – Wapres Gibran Rakabuming Raka, untuk 3 juta unit pembangunan perumahan per tahun secara nasional.
Target tiga juta rumah ini terbagi dalam tiga wilayah. Yakni, 1 juta untuk wilayah perkotaan, 1 juta wilayah pedesaan dan 1 juta wilayah pesisir. “Khusus di wilayah Kaltim memang tidak tersebut angkanya, tapi pengembang diminta membangun sebanyak-banyaknya,” ujarnya.
Anggota REI Komisariat Balikpapan sebanyak 30-an pengembang yang tergolong aktif dan ikut berkontribusi dalam pembangunan rumah bersubsidi atau rumah masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Sementara di PPU dan Paser, anggota aktif tergolong sedikit, satu-dua pengembang.
Di tengah kondisi serba sulit secara ekonomi, para pengembang lokal anggota REI Balikpapan, diakui Andi tetap optimis. Meski, angka target 3 juta rumah per tahun disebutnya perlu “effort”.
Data secara nasional kata Andi, angka supplai dan demand di sektor perumahan memang terjadi ketimpangan. Lebih banyak permintaan perumahan daripada ketersediaan rumah. “Selisihnya hampir 10 juta. Khusus untuk Balikpapan menurut data BPS di tahun 2025, jumlahnya di kisaran 25 ribu – 35 ribu unit kebutuhan rumahnya, dimana di Kaltim kemungkinan tiga kali lipat dari Balikpapan atau mendekati 100 ribu unit,” terangnya.
Dari data ini, khusus untuk Balikpapan, diakui cukup sulit memenuhi target tadi. Salah satunya, luas lahan di Balikpapan yang makin terbatas. Sehingga, jika dibangun hunian baru hingga 20 ribu unit rumah, diyakini lahan yang ada tidak cukup. Kemudian, tren daya beli masyarakat beberapa tahun terakhir lagi menurun. Kalau toh punya dana, masyarakat dinilai justru akan menyimpannya sebagai tabungan dan keperluan pokok serta pendidikan. “Jadi, pilihannya adalah sewa dan generasi Gen Z hari ini lebih suka sewa dan tinggal di apartemen,” tuturnya.
Situasi ini diperparah nilai tikar uang yang tidak stabil yang jadi pemicu inflasi, selain harga material terus melambung tinggi, juga memengaruhi aktivitas pengembang dan bisnis property.
Di Provinsi Kaltim, kata Andi, pemerintah diharapkan bisa lebih berperan aktif dalam pengelolaan pembangunan. Mengapa? Karena Kaltim menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar di Indonesia. Sehingga, project APBN idealnya banya dilaksanakan di wilayah Kaltim. Misalnya proyek perluasan kilang Pertamina (RDMP) Balikpapan. “Harapan kami, pembangunan atau investasi di IKN tetap berjalan, agar multiplier effect nya bisa dirasakan pengusaha lokal. Termasuk pengusaha yang bergerak di sektor transportasi dan kuliner, juga bisa ikut menikmati pembangunan IKN,” paparnya.
Bagaimana dengan prospek rumah komersil atau non subsidi? Andi mengungkapkan, paska pandemi covid – 19 penjualan property atau rumah komersil memang tidak sebaik sebelum covid. Saat ini, para pengembang jutru memakai strategi penyesuaian. Misalnya ukuran dan tipe, dengan harga yang sama. “Justru ini memang tantangan bagi pengembang anggota REI,” tukasnya.
Sandan, pangan dan papan, disebut Andi adalah kebutuhan utama masyarakat. Karena itu, ketersediaan rumah tetap jadi prioritas pengembang. “Kebutuhan rumah bagi masyarakat tetap tinggi setiap tahunnya. Ini jadi peluang dan tantangan bagi para pengembang,” pungkasnya.(*)
Penulis / Editor : Rudi R.Masykur
