Geliat UMKM, Me-Restart Paradigma (Bag.28)
APINDOKALTIM.COM – Dua UMKM dengan produk berbeda, Kopi Kalimantan dan Cireng Morotai, menjadi tamu special Podcast Apindo Kaltim Channel, belum lama ini.
Menurut Achmad EM, owner Kopi Kalimantan yang bermukim di kawasan Balikpapan Regency BK 24, dia mulai memproduksi aneka kopi dengan brand khas Kalimantan, sejak 1 Oktober 2022. “Positioning kami adalah produk kopi sebagai oleh-oleh, yang diproduksi dari Kalimantan,” ujar Achmad.
Ada sejumlah varian kopi yang dibuat. Seperti single origin dengan tiga rasa, house bland ada lima rasa dan kopi rempah dengan tujuh rasa ata varian. “Total ada sekira 15 rasa atau varian yang sudah kami pasarkan di sejumlah toko oleh-oleh seperti di Jenebora, Bonting, Mentari dan bandara, serta di Galeri UMKM Kaltim,” tuturnya.
Dia juga menitipkan produk kopi Kalimantan di cabang Amanda Brownies di Kalimantan Selatan seperti di Banjarmasin, Banjar Baru, Batu Licin dan Tanjung, serta di Palangka Raya Kalteng.
Dengan perizinan serba lengkap, mulai sertifikasi halal, P-IRT dan lainnya, Kopi Kalimantan diproduksi sekira 700-an Pcs dalam sebulan. Dimana bahan baku kopi didatangkan dari Pontianak, Palangka Raya dan Banjarbaru. “Kendala kami sejauh ini dukungan modal yang terbatas, karena pembelian bahan baku kopi mesti dilakukan dalam jumlah banyak, agar produksi dapat terus berjalan,”” paparnya.
Usaha Kopi Kalimantan, kata Achmad berawal dari permintaan saudaranya untuk melakukan penelitian tentang kopi, dengan tujuan untuk membuat sebuah buku., yang terbit sekira Desember tahun 2021, berjudul “Amazing Kopi Indonesia”.
Saudaranya yang berasal dari Bali menceritakan, sebagian produk oleh-oleh yang dipasarkan di Bali adalah kopi. “Dari situlah, timbul ide membuat Kopi Kalimantan,” ucap pria yang dulunya bekerja sebagai teknisi perusahaan minyak dan gas (migas).
Kopi Kalimantan sendiri sudah ikut pameran di sejumlah tempat. Antaralain di ajang “Bali Internasional Business Meeting” tanggal 25-28 September 2025, dimana Kopi Kalimantan menjadi satu-satunya produk UMKM yangi diajak serta pameran oleh Dinas Perdaganan.
CIRENG MOROTAI
Sementara Defiana Achmad, owner Cireng Morotai yang bermukim di kawasan Wika Cluster Berau 2 no.8 Balikpapan, mengungkapkan, produksi awal makanan khas Jawa Barat ini, dia produksi saat mengikuti ayahnya yang kala itu tinggal di kawasan Jalan Marotai Gunung Dubs Pertamina.
“Saya ini basic-nya memang hobi memasak dan penyuka cemilan dan cireng. Waktu membuat cireng, saya coba membawanya ke kantor dan kawan-kawan menyebutnya Cimor atau Cireng Jalan Morotai,” ucapnya.
Defiana sudah membuat aneka produk sejak 2017 dan di tahun 2020 dia sempat pindah kota dan di 2021 kembali ke Balikpapan. “Saat ini saya memasarkannya di lima kafe di Balikpapan, termasuk di Maxi Lux dan reseller dan lainnya, dengan kapasitas produksi hingga 1.000 Pcs cireng dalam sebulan,” paparnya.
Produk cireng Morotai saat ini sedang dalam proses pengurusan izin BPOM. Namun, sebagian produk juga banyak diminati konsumen dari luar kota, termasuk sejumlah artis ibu kota.
Kelebihan Cireng Morotai, selain renyah (lembut) meski dalam keadaan dingin, tapi juga bahan bakunya dibuat mix dengan kepiting, yang menjadi ciri khas Balikpapan. “Ini yang membuat Cireng kami berbeda dengan Cireng yang banyak dipasarkan di Bandung Jawa Barat. Karenanya, Cireng Marotai sampai dibawa ke Turki, Abu Dhabi dan Jeddah, lewat kawan yang memesan langsung produk kami di Balikpapan,”tuturnya seraya menyebut ingin membuat cabang di Jawa.(*)
Penulis / Editor : Rudi R. Masykur
