APINDOKALTIM.COM –  Tidak banyak perusahaan yang didirikan untuk fokus pada bisnis pengelolaan limbah dan sampah. Namun PT. Rafi Energi Indonesia (REI) justru berbeda. Hal ini diungkapkan Direktur Utama REI, Zalfaa Nabiilah, ST saat menjadi narasumber Podcast Apindo Kaltim Channel, belum lama ini.

Menurut Zalfaa Nabiilah, REI adalah perusahaan yang bergerak di bidang pengelolaan limbah dan general supplier. Saat peringatan Hut RI Agustus lalu, REI juga diminta untuk support di Ibukota Nusantara (IKN), seperti support TPST di IKN berupa pengangkutan limbah konstruksi dan proyek. “Kami juga terlibat dalam pembersihan jalan dan lumpur bekas proyek di IKN terkait persiapan Hut RI. Kami juga  supplai APD, APAR untuk perusahaan dan klinik-klinik. Saat ini, kami memang fokus pada pengelolaan limbah dan sampah,” ujar Zalfaa yang juga komisaris Jagatera.

Ia menyebut, di Balikpapan pihaknya ingin berkontribusi  dan menjadi solutor dalam problem klasik masalah sampah di Kota Minyak. Setiap harinya,  Balikpapan menghasilkan 500 ton sampah dan diperkirakan tahun 2028, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Manggar akan full kapasitas. Dari 500 ton sampah itu, baru 30 persen yang bisa dikelola dengan baik.

“Harapan kami, sampah yang sampai ke TPA, hanya tinggal residu saja. Jangan sampai menumpuk dan memicu masalah lain, seperti banjir dan problem lain yang terjadi di kota-kota besar di Indonesia,” tuturnya.

Kondisi geografis Balikpapan yang terhubung dengan laut, terang dia, juga memicu sebagian sampah juga mengalir ke laut. Indonesia, ucap dia, adalah lima negara yang sampahnya justru banyak mengalir ke laut. “Tentu ini akan sangat merugikan ekosistem dan sektor maritim laut Indonesia, termasuk di Balikpapan. Tidak hanya memicu banjir seperti banjir bandang di sebagian daerah di Jawa, tapi ekosistem laut juga tercemar dan terkontaminasi,” ucapnya.

REI yang baru berdiri 2 tahun terakhir atau 30 Agustus 2023. Perusahaan yang fokus di pengelolaan limbah ini, telah diminta untuk terlibat mengelola salah satu TPST di Balikpapan bekerjasama dengan Pemkot Balikpapan, sehingga dapat berkontribusi dalam mengelola sampah yang baik di Balikpapan. “REI  bertugas mengumpulkan dan memilah sampah, sehingga ada sampah yang bisa direduce atau didaur ulang diricle. Potensinya besar, plastik bekas, bekas botol minuman dan lainnya, bisa dimanfaatkan untuk produk baru hasil daur ulang,” sebutnya.

Termasuk sampah elektronik seperti ponsel, televisi, radio dan lainnya, yang dipandang “berbahaya” karena tergolong limbah B3, yang perlu penanganan khusus. “Pengalaman saat di Jepang,  saya mendapatkan pengetahuan baru, melihat langsung sampah produk elektronik yang didaur ulang menjadi biji-biji besi, bisa digunakan kembali untuk sektor konstruksi,” paparnya.

Menyinggung Jagatera yang bermarkas di Depok, kegiatan yang dilakukan hampir sama. Namun, Jagatera juga mampu memanfaatkan limbah baju atau pakaian bekas.

“Pekerjaan rumah kita di Balikpapan juga seperti itu, karena banyaknya pakaian bekas yang dibuang begitu saja. Jagatera punya mesin pencacahan kain, sehingga bisa dimanfaatkan untuk membuat produk lap, keset dan lainnya,” kata Zalfaa  yang merupakan sarjana Teknik Industri UII Jogjakarta.

Untuk diketahui, sampah yang dihasilkan di seluruh Indonesia, diperkirakan mencapai 175 ribu ton per hari. Jika dibandingkan, sama dengan 12 candi Borobudur. “Bisa dibayangkan, berapa banyak sampah yang dihasilkan warga Indonesia dalam sebulan,” kata Zalfaa yang kini juga mengelola TPST di IKN Nusantara.

Seperti halnya warga Jepang, lanjut dia, kebiasaan hidup bersih dan sehat, dengan mengelola sampah yang baik, sudah diajarkan pada anak-anak usia dunia. “Pekerjaan rumah kita adalah memberikan edukasi berkelanjutan, terkait pengelolaan sampah dan hidup sehat tadi. Jangan terlena ancaman serbuan sampah warga Balikpapan, yang diperkirakan tahun 2028 membuat TPA Manggar akan penuh,” pungkasnya (*)

Penulis / Editor : Rudi R. Masykur

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *