Geliat UMKM, Me-Restart Paradigma (Bag.34)

APINDOKALTIM.COM – Forum UMKM Balikpapan Tengah tampaknya makin eksis dengan kehadiran para UMKM yang mengisi Program Podcast Apindo Kaltim Channel. Kali ini, dua UMKM hadir di podcast yang dihelat Rabu (12/11). Yakni, Rivi Nursyepha Pangesthi’s, owner Suwir Kepiting dan Sambal Kepiting, berlamat di kawasan Jalan Letjen S. Parman Rt 21 Gunung Sari Ulu. Lalu, Hety Devita, owner Mery’s Cake & Cookies, dengan produk Borneo Bite Pie, kukis dan kue mangkok,  beralamat di  Jalan Zainal Arifin Rt 18/11.

Menurut Rivi Nurshepha, ia memulai usahanya sejak tahun 2016 dengan membuat beragam produk makanan. Lalu, sejak tahun 2019 hingga sekarang, dia membuat aneka sambal kepiting. Sementara untuk produk suwir kepiting, baru dibuat tahun 2023 saat dia ikut lomba kreasi olahan kepiting yang digelar Bank Indonesia.

“Saat ini, produk sambal dan suwir kepiting dibuat dengan kemasan yang lebih simpel. Saya memasarkannya di toko oleh-oleh dan ritel di Balikpapan, seperti di Bonting, Jenebora, Yova, hypermart, bandara, PT Indoguna F&B, galeri UMKM, serta di semua jaringan Amanda Brownies di 16 kota 4 provinsi di Kalimantan,” ujar Rivi.

Meski tidak setiap hari memproduksi karena dibuat untuk stok toko, dia mampu membuat 100-200 pcs sambal dan suwir kepiting. “Alhamdulillah, saya tidak kesulitan mendapatkan bahan baku kepiting, karena ada jaringan sejumlah supplier. Kendalanya, memang bahan baku bumbu yang harganya berfluktuatif, misalnya harga cabai yang tiba-tiba melonjak tinggi,” tuturnya seraya menyebut, semua perizinan produknya lengkap, termasuk izin halal dan P-IRT.

UMKM Profesi Dosen

Sementara Hety Devita, owner Mery’s Cake & Cookies mengungkapkan, dia hobi membuat kue sambil mengajar sebagai dosen di Universitas Mulia dan LP3I Balikpapan. Menurutnya kondisi ini bukan hal yang “tabu”, karena memang hasil dari produksi kue diyakini menambah omset atau penghasilan bagi keluarga.

“Awalnya saya hanya melayani pesanan dari teman dan kolega. Kemudian saya mulai serius menekuni usaha kering dan pia dengan ciri khas Kalimantan, termasuk kue basah atau kue mangkok, sejak tahun 2025 ini. Karena saya percaya, perlu opsi lain untuk menambah penghasilan, agar tidak selalu tergantung pada pekerjaan sebagai pengajar,” tutur Hety.

Memasarkan produk kue mangkok di Maxi dan Yova, termasuk di Maxi Lux Balikpapan Baru, termasuk FR Swalayan, serta Koperasi Patra Medika dan Koperasi Wanita Patra, serta di Samarinda. “Kue Pia Borneo, memang dibuat sebagai ciri khas Balikpapan sebagai pintu gerbang Kaltim dan Kalimantan,” sebutnya.

Mengandalkan modal pribadi, baik Rivi maupun Hety menyimpulkan, sejauh ini mereka bisa eksis karena konsisten menjalani bisnis UMKM yang dijalani. “Kendala utama sebagian besar UMKM adalah kurang fokus dan tidak disiplin dalam menjaga ritme berusaha,” ucap keduanya.(*)

Penulis / Editor : Rudi R. Masykur

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *