APINDOKALTIM.COM – DPP Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kalimantan Timur akan menggandeng organisasi Real Estate Indonesia (REI) Kaltim Komisariat Balikpapan untuk menggelar kegiatan diskusi dan seminar dalam waktu dekat. Kegiatan ini, dimaksudkan untuk mencari solusi terbaik atas problem pengadaan perumahan di Kaltim utamanya Balikpapan, terkait target Presiden Prabowo Subianto untk pembangunan 3 juta unit rumah per tahun secara nasional.
Salah satu ide dan solusi yang terungkap, adalah pembangunan perumahan yang tidak lagi konvensional, tapi dibangun dengan pola rumah susun atau semacam apartemen. Mengapa ini dilakukan? Selain adanya keinginan dari pemerintah, keterbatasan lahan dan makin mahalnya harga lahan dan material pendukung pembangunan rumah, diyakini sejalan dengan permintaan fasilitas hunian yang makin besar seiring perkembangan jumlah penduduk dalam kurun waktu 5 – 10 tahun ke depan.
“Kami sepakat dengan kawan-kawan pengembang anggota REI Kaltim Komisariat Balikpapan, untuk duduk bersama membahas solusi atas problem perumahan ini. Bentuknya, bisa seminar atau diskusi yang akan diprakasai Apindo dan didukung penuh REI,” kata Ketua DPP Apindo Kaltim, Dr. Abriantinus, SH, MA saat bertemu dengan Ketua REI Komisariat Balikpapan, Andi Arif Mulya Dwi Hartono di kantornya, Kamis 14 Agustus 2025.
Keterlibatan Pemerintah Kota Balikpapan, kata Abriantinus juga penting dalam upaya mencari solusi ini. Selain Wali Kota H. Rahmad Mas’ud, SE ME, kebetulan Wakil Wali Kota Balikpapan Ir Bagus Susetyo juga diketahui adalah Ketua DPD REI Kaltim.
“Semangat kami berkolaborasi untuk mencari solusi pembangunan perumahan di Kaltim utamanya di Balikpapan, PPU dan Paser, memang wajib didukung oleh pemeritah daerah. Sebab, apapun rencana terbaik dari kawan-kawan swasta, tentu wajib ada support dari pemerintah,” ujar Abriantinus.
Bercermin dari kondisi masyarakat perkotaan di Jakarta dan kota besar lain di Indonesia, kata dia, opsi terbaik memang menyediakan fasilitas perumahan semacam apartemen atau rusun. “Jadi kami mendukung rencana pemerintah pusat. Karena lahan makin terbatas, maka opsi terbaik adalah tinggal di apartemen atau rusun. Karena jelas, masyarakat akan diadang banyak kesulitan atau kendala jika tetap memaksakan diri membangun rumah konvensional,” tuturnya.
Hal senada dikatakan Andi Arif Mulya. Menurut direktur utama PT. Himalaya Puncak Buana ini, negara tetangga seperti Singapura, Malaysia dan Tiongkok, jauh hari sudah mengantisipasi hal ini. Yakni, mengeluarkan kebijakan untuk warganya agar tinggal di rusun atau apartemen, karena lahan yang ada habis dan diperuntukkan untuk kawasan lain seperti pusat bisnis dan industri.
Tantangan terbesarnya di Indonesia, utamanya di Kaltim dan Balikpapan, adalah mengubah “habit” atau budaya masyarakat yang terbiasa tinggal di rumah konvensional. “Merubah pola semacam itu memang perlu proses waktu. Meski saat ini, generasi Gen Z umumnya sudah mulai tertarik tinggal di hunian semacam apartemen. Tapi kalau mereka berkeluarga, punya isteri dan anak, tentu juga wajib punya hunian sendiri,” ucap Andi.
Seiring pesatnya Balikpapan sebagai kota penyangga ibukota negara (IKN) Nusantara, lanjut dia, prioritas pembangunan memang tidak mungkin lagi untuk sektor Pembangunan rumah konvensional. Lebih ideal, sesuai rencana tata ruang wilayah (RTRW) Kota Balikpapan, memang perlu dipikirkan sejak dini pembangunan rusun atau apartemen dalam jumlah banyak, bukan lagi perumahan konvensional. “Antisipasi dini ini perlu dilakukan, jangan sampai kita mengulangi problem yang dihadapi Masyarakat Jakarta. Mungkin KTP – nya Jakarta, tapi warganya harus tersingkir hinga ke pinggiran dan daerah penyangga seperti di wilayah jabodetabek. Kalau toh tetap memaksa tinggal di Jakarta, opsinya harus rela tinggal di kontrakan, rusun atau apartemen. Sementara warga yang tinggal di pingiran dan luar Jakarta, ribuan orang keluar masuk Jakarta tiap hari. Ini, salah satu problem sosial transportasi kota dan pemicu kemacetan,” ujarnya.
REI mendukung agenda Apindo Kaltim untuk menggelar forum diskusi atau seminar mencari Solusi dini untuk problem ketersediaan hunian untuk warga Balikpapan dan sekitarnya. Apalagi, sejak Pembangunan IKN dilakukan beberapa tahun terakhir, jumlah pendatang yang masuk ke Balikpapan makin banyak tiap bulannya.
“Bisa kita lihat, jalan-jalan di Balikpapan makin padat dan macet tiap hari. Ini, belum kebutuhan sandang dan pangan yang juga makin meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Jadi, problem semacam ini memang perlu dicarikan Solusi dan antisipasi segera. Kami sepakat dengan Apindo Kaltim,” pungkas Andi.(*)
Penulis / Editor : Rudi R. Masykur
