APINDOKALTIM.COM – Persaingan bisnis di sektor jasa pendingin dan produk turunannya, sejauh ini tetap berlangsung kompetitif. Meski pengusaha lokal makin diserbu masuknya pemain dari luar, namun secara umum bisnis di jasa ini dinilai masih prospektif dan menjanjikan sepanjang tahun 2025.
Hal ini diungkapkan para pengusaha yang tergabung di organisasi Asosiasi Pendingin dan Praktisi Tata Udara Indonesia (APITU), saat menjadi narasumber program Podcast Apindo Kaltim Channel, Rabu 20 Agustus 2025.
Menurut Hafiz Rizal, Wakil Ketua Umum DPP APITU yang membawahi wilayah Kalimantan dan Direktur CV. Arya Duta Mandiri, saat ini sebagian besar masyarakat masih berpandangan, bahwa jasa pendingin hanya terfokus di bisnis jasa AC (Air Conditioner) dan jasa service. Padahal, bisnis di sektor ini luas, mulai perusahaan jasa, pabrikan dan toko, para pekerja yang terlibat di dalamnya, hingga sejumlah produk turunan lainnya, seperti cold storage.
Menurut Hafiz, APITU adalah organisasi yang resmi terbentuk di tahun 2015, dimana sebelumnya anggota hanya terlibat di komunitas media sosial, seperti Facebook dan lainnya di tahun 2010. “Saat ini APITU sudah ada di 30 provinsi di seluruh Indonesia. Saya sendiri , Wakil Ketus Umum DPP APITU yang membawahi wilayah Kalimantan, seperti Kaltim, Kalsel, Kalbar, Kaltara dan Kalteng,” ujarnya.
Organisasi APITU, kata dia menaungi para teknisi, praktisi, toko dan semua jasa tunanan pendingin udara. Pendingin sendiri tergolong luas, mulai AC, cold storage, kulkas dan lainnya. Secara nasional, anggota APITU tercatat sekira 5.000 orang dan saat gathering lalu hadir 1.000 angota dari Aceh hingga Papua.
Wahyudi, Ketua DPD APITU Kaltim dan Direktur CV Yudhie AC Balikpapan menambkan, untuk di Kaltim anggotanya ada sekira 400 – 500 orang, yang ada di 6 DPC kabupaten – kota se-Kaltim. “Sebagian besar anggota memang ada di kota besar, seperti Balikpapan, Samarinda, Bontang dan Berau. Anggota Apitu, sebagian besar pekerja yang terlibat sebagai teknisi dan praktisi jasa pendingin,” tuturnya.
Bisnis pendingin dan AC, lanjut Hafiz sejauh ini masih prospektif dan kompetitif. Karena produk turunannya banyak. Misalnya, dari sekedar servis dan cuci AC, hingga yang terlibat dalam proyek besar untuk Gedung, instalisi hingga bengkel perbaikan untuk kulkas, mesin cuci dan lainnya. Khusus teknisi pendingin, saat ini sudah banyak mempekerjakan warga lokal Kaltim.
“Sejak hadirnya APITU di Kalimantan, kemampuan teknis anggota APITU dan produknya saat ini sudah setara dengan pemain dari Jawa. Begitu juga produk sparepart waktu itu juga sulit. Saat ini, keandalan anggota APITU di Kalimanta sudah setara dengan Jawa. Tenaga skil atau ahlinya juga beragam, mulai teknisi AC, sentral dan lainnya. Memang, belakangan ini pekerja AC lokal masih kalah dengan pekerja luar, terutama dari harga atau jasa” ucapnya.
PUNYA LSP SENDIRI
APITU disebutnya juga punya Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) PTPU bekerjasama dengan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), khusus di bidang pendingin. Kegiatan pelatihan sertifikasi juga sering digelar oleh APITU, dimana LSP sudah terbentuk 5 tahun terakhir. “80 persen anggota APITU sudah tersertifikasi,” ucapnya.
Sebagian anggota APITU di Kaltim juga terlibat dalam pembangunan ibukota negara (IKN) Nusantara, khususnya untuk jasa servis dan perbaikan pendingin di sejumlah gedung di IKN, termasuk di lingkungan Pemprov dan kabupaten – kota di Kaltim.
Meski bisnis pendingin tergolong cerah, menurut Hafiz pihaknya terkendala kekurangan teknisi dari anak-anak lokal di Kaltim, khususnya lulusan SMK, baik negeri dan swasta yang fokus untuk jurusan teknisi pendingin. Di Balikpapan, hanya ada SMK swasta, yakni SMK Kartika dan SMK PPU dan Tanah Grogot. “Ini memang stigma yang berkembang di Masyarakat, karena memandang bisnis ini hanya sekadar Jasa servis AC, kulkas dan lainnya. Padahal, bisnis jasa ini luas, apalagi melayani proyek dan gedung besar seperti mal atau pusat belanja. Peluangnya besar, apalagi bangunan IKN Nusantara yang perlu maintenance Gedung,” tuturnya.
Untuk contoh saja, mal seperti e-Walk yang mempekerjakan hingga 50 orang di teknisi pendingin. Ini, belum gudung fasilitas umum seperti bandara, rumah sakit dan lainnya, yang dipastikan memerlukan palayanan maintenance dan jasa di bidang ini.(*) .
Penulis / Editor : Rudi R.Masykur
