Geliat UMKM, Me-Restart Paradigma (Bag.21)

APINDOKALTIM.COM – Merintis usaha dari sebuah daerah di Balikpapan yang dulu dikenal sebagai kawasan rumah potong sapi, siapa sangka produk Peyek Kepiting Kampoen Timur dan Abon Rajungan, namanya melejit ke level nasional hingga mancanegara. Bahkan, sejak dirintis lebih dari 13 tahun lalu, Peyek Kapiting dan Abon Rajungan Kampoeng Timur sudah mampu menembus pasar ekspor di tiga negara. Yakni, Taiwain, Malaysia dan Singapura.

Brand Kampoeng Timur dinaungi CV. Azra Sentosa Jaya. Kampoeng Timur didirikan sekira Desember tahun 2012. Lalu, mulai masif produksi sejak 2013 hingga sekarang

Dmana Kampoeng Timur yang mewakili Provinsi Kaltim sukses meraih gelar juara pertama tingkat nasional, saat mengikuti ajang Event Wira Usaha Nasional yang digelar sebuah perbankan nasional di Jakarta. “Selama 13 tahun berjalan, memang tidak semudah membalik telapak tangan. Apalagi, brand Kampoeng Timur diambil dari sebuah daerah di Balikpapan yang dulunya identik dengan rumah potong hewan (RPH) atau rumah potong sapi,” kata Woro Sumarsono, CEO Kampoeng Timur yang hadir sebagai tamu dalam program Podcast Apindo Kaltim Channel, Rabu 1 Oktober 2025.

Mengubah image rumah potong sapi menjadi brand “Kampoeng Timur”, disebut Woro bukan hal yang mudah. Tokoh seniman dan budayawan Kota Balikpapan ini mengaku bangga, akhirnya nama Kampoeng Timur kemudian dikenal luas dengan produk khas dan unggulan Kota Balikpapan, melalui beragam produk dihasilkan.

Segmentasi produk Kampoeng Timur disebut Woro, adalah produk oleh-oleh khas Balikpapan, dengan produk andalan Peyek Kepiting. “Dulu Wali Kota Balikpapan H. Imdaad Hamid, SE pernah mengatakan, seseorang belum disebut datang ke Balikpapan jika belum mengkonsumsi makanan kepiting. Karena sekira tahun 2012 kala itu, produksi kepiting Balikpapan melimpah, sehingga kepiting bisa diekspor ke sejumlah negara di Asia,” ujarnya.

Dari situ, muncul ide membuat produk kepiting berlabel Kampoeng Timur. Namun bukan makanan basah, namun sejenis peyek dan abon kepiting. “Persepsi publik memang beragam saat kami rilis peyek kepiting Kampoeng Timur, lengkap dengan slogan oleh-oleh nomor satu Balikpapan dan cemilan khas IKN,” tuturnya.

Yang membanggakan lanjut Woro, meski belum menguasai seluruh pasar di Indonesia, namun  reseller produk Peyek Kepiting dan Abon Rajungan sudah ada di seluruh Indonesia, terutama di Jawa, Bali dan Sumatera.

Khusus untuk peyek kepiting, dibuat dengan tiga varian. Yakni, original, pedas dan lada hitam. Kemasannya juga unik, dibuat dalam 40 gram dengan harga yang terjangkau, di kisaran Rp 15 ribu / pcs.

Soal ketersediaan bahan baku kepiting, Woro menyebut pihaknya melakukan kontrak dengan sejumlah supplier di Balikpapan, Tarakan dan Surabaya.  “Kapasitas produk kami dengan enam pekerja, per orang bisa menggoreng 6 kilo adonan tiap hari, dimana satu kg adonan bisa menghasilkan 20 pcs peyek kepiting atau 720 pcs dalam sehari produksi,” ucapnya.

Produk Kampoeng Timur kata Woro,  di tahun 2021  mendapatkan pendampingan setahun dari Kementerian Perdagangan untuk pelatihan ekspor. Di sisi lain, Dinas UMKM dan Koperasi, Bank Indonesia dan stakeholders terkait di Balikpapan, diakuinya sangat mensupport perkembangan pelaku UMKM di Kota Minyak, termasuk Kampoeng Timur.

“Alhamdulillah, produk Peyek Kepiting dan Abon Rajungan kami sudah tembus di pasar ekspor Malaysia, Taiwan dan Singapura, dimana saat ekspor memang tidak sampai satu container sekali ekspor. Kami tanggal 15 – 19 Oktober 2005 juga akan mengikuti event besar Trade Eskpor Indonesia di BSD Tanggerang, dimana kami sudah ikut event ini sejak 2018 hingga sekarang,” paparnya.

Di ajang pameran ini, sebut Woro, yang datang bukan hanya konsumen biasa, tapi juga buyer dari mancanegara. “Kami percaya diri, karena Peyek Kepiting Kampoeng Timur saat ini sudah tembus di pasaran ekspor mancanegara,” ungkapnya.

Kampoeng Timur lanjut dia, saat ini dalam katagori UMKM, sudah  masuk ke tahapan usaha kecil secara omset dan pasar yang digarap, bukan lagi kelas mikro. “Kedepan, kemasannya juga dibuat lebih cantik dan mengikuti desain kemasan sesuai keinginan buyer, seperti permintaan dari Singapura, yang meminta dalam satu kemasan bisa diisi tiga produk sekaligus. Yakni, orginisal, pedas dan lada hitam. Begitu juga buyer dari Taiwan, yang meminta kemasan khusus, lengkap dengan keterangan produk memakai tiga Bahasa, yakni Indonesia, Mandarin dan Inggris,” sebutnya.

Khusus untuk produk Abon Rajungan (Kepiting Laut), segmentasinya disebut Woro untuk anak-anak. Karena kandungan omega tiganya cukup besar yang bagus untuk tumbuh kembang anak-anak.(*)

Penulis / Editor : Rudi R. Masykur

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *