APINDOKALTIM.COM – Salah satu produk unggulan pelaku UMKM Balikpapan adalah kacang mede dan kacang crispy. Menjadi bernilai ekonomi tinggi dan layak menjadi produk oleh-oleh dan cinderamata, karena sudah dikemas baik dan banyak dipasarkan di sejumlah outlet pusat belanja.
Berlabel Mamidah’s Homemade, Ade Puspita Haris berhasil membuat kacang mente dan kacang tanah, menjadi sebuah produk UMKM yang berkelas. Ade mengungkapkan, dia sudah mulai terjun di wirausaha UMKM sejak tahun 2017. “Awalnya saya tidak berfokus pada produk cemilan, tapi pada usaha kuliner seperti makanan olahan dan lainnnya. Setelah bergabung di Forum UMKM Balikpapan Tengah, lalu diarahkan Dinas UMKM dan Koperasi, agar punya produk yang bisa dibranding dan dibawa kemana-mana menjadi produk oleh-oleh dan souvenir,” kata Ade saat hadir sebagai narasumber Podcast Apindo Kaltim Channel, Rabu 3 September 2025.
Ia mengatakan, produk dengan kemasan bagus ini, diharapkan memang menjadi salah satu produk unggulan cemilan andalan Balikpapan. Produk ini juga sudah lengkapi label halal, izin P.IRT dan BPOM. Sehingga dari segi higienitas dan keamanan, sudah dinyatakan lulus standarisasi produk makanan cemilan yang aman dikonsumsi.
Terkait bahan baku kacang mente dan kacang tanah, disebut Ade masih tersedia dengan cukup di Balikpapan, kecuali kacang mente yang sebagian besar didatangkan dari Sulawesi. “Saya bisa memproduksi sekira 200-an Pcs per bulan dan alhamdulillah makin diminanti konsumen,” ujarnya.
Pemasaran produknya disebut Ada tidak hanya di Balikpapan, tapi hingga keluar kota. Untuk di Balikpapan, produknya sudah di tempatkan di sejumlah outlet, seperti toko oleh-oleh, koperasi rumah sakit dan lainnya. “Kami juga sering diikutkan pameran di berbagai event, termasuk disertakan dalam kegiatan rapat kerja dinas dan organisasi,” tuturnya.
Sebagian besar produknya, juga dijadikan godybag atau souvenir dari kegiatan perusahaan, instansi dan organisasi. “Berkali-kali saya dapat orderan untuk godybag, sehingga pesanannya juga lumayan banyak,” ucap Ade yang menjadi pengurus Forum UMKM Balikpapan Tengah.
Selain memproduksi cemilan, Ada juga kreatif dalam beragam produk keterampilan lainnya, seperti kriya dan daur ulang (resicle) sampai plastic, kardus dan lainnya, yang dibuat kerajinan yang bisa dijual kembali. “Ada nilai ekonomi lebih, dengan memproduksi bahan limbah daur ulang,” ujarnya.
Ade juga terampil memproduksi minyak jelantah (bekas minyak goreng), yang didaur ulang untuk dengan chemical khusus, dibuat produk lilin hias. Produk lilin hias ini juga banyak digemari, karena sering dimanfaatkan dan ditempatkan di meja-meja kafe, restoran dan rumah tangga, dengan bentuk yang unik. “Kami dapat transfer ilmu dari para pengusaha sawit untuk membuat produk lilin hias ini,” sebut Ade yang juga bergabung di organisasi IWAPI Balikpapan.
Bersama IWAPI pula, diakui Ade, pihaknya juga diberikan pelatihan untuk menjajaki ekspor ke Singapura. “Kami berterima kasih, diberikan akses atau terbuka peluang ekspor ke mancanegara,” kata Ade yang sudah beberapa kali mengikuti pameran di Balikpapan dan Bali, serta ikut pelatihan memproduksi alas kaki di Mojokerto Jawa Timur.
Sebagai pelaku UMKM, Ade berharap tetap adanya pendampingan dan bantuan peralatan pendukung untuk meningkatkan kapasitas produksi. “Saat ini, kami lebih banyak modal pribadi dibandingkan dukungan dari lembaga perbankan dan lainnya. UMKM juga perlu sering diberikan temu bisnis dengan pihak lain, termasuk dari luar. Memang, sudah ada agenda bisnis matching oleh Dinas Koperasi dan UMKM belum lama ini, yang diikuti seratusan peserta,” ucap Ade yang menempatkan produknya di Yova Supermart, Novotel, Swisbell Hotel dan Royal Suite Hotel.(*)
Penulis / Editor : Rudi R. Masykur
