Geliat UMKM, Me-Restart Paradigma (Bag.22)

APINDOKALTIM.COM – Program Podcast Apindo Kaltim Channel, Rabu 1 Oktober 2025 kedatangan dua perempuan pelaku UMKM dengan bidang usaha berbeda, namun bisnis sampingannya juga luar biasa.

Yang pertama, Yuni Suciana owner Griya Tahu dengan aneka produk Keripik Tahu Walik Borneo, dimana Yuni bergabung di Forum UMKM Balikpapan Utara. Kedua, Miss Aya owner Dimsum Mentai Premium Pappa Mayoo, yang bergabung di Forum UMKM Balikpapan Barat.

Menurut Yuni Suciana, awalnya dia belum berpikir untuk membuat kripik tahu walik, karena sebelumnya hanya membuat tahu walik yang ada isinya. Lalu timbul ide agar Tahu Walik dibuat jadi kripik dan bisa dipasarkan lebih luas, karena bisa dipasarkan dan dibranding ke toko-toko retail. “Kripik tahu walik daya tahannya hingga 7 bulan, dimana saya mulai serius memproduksi kripik ini sejak tahun 2023,” kata Yuni yang bernaung di bawah bendera PT. Hefizah Bina Sukses.

Produk kripik Tahu Walik Borneo, dibuat dengan empat varian, mulai original, pedas manis,  kepiting dan keju. “Produk saya sudah bisa ditemukan di toko oleh-oleh Jenebora, Borneo Shop dan semua outlet Amanda Brownies di Balikpapan, Samarinda, Berau, Banjarmasin dan Palangka Raya. Juga di sejumlah supermarket seperti Yova dan lainnya,” terangnya.

Diberi nama Keripik Tahu Walik Borneo, kata Yuni, untuk mempertegas makanan cemilan ini dibuat di Balikpapan, meski istilah tahu walik lebih dikenal di Banyuwangi Jawa Timur. “Keunggulan Tahu Walik kami dibuat crispy dan renyah, sehingga digemari banyak orang, dimana izin legalitas semuanya serba lengkap,” ucap Yuni yang membuat produk olahannya di Perumahan Polda Km 7 Balikpapan Utara.

Dia mengaku merintis usaha dengan penuh perjuangan dan tidak mudah. Meski belum lama berjalan, Yuni sudah mengikuti pelatihan kelas ekspor.  Karena dia berharap, produknya suatu saat bisa tembus juga ke seluruh Indonesia dan pasar ekspor. “Saya juga punya usaha sampingan di rumah, yakni ekspedisi Tiki, membuka kedai Griya Tahu dan menjalankan bisnis online shop sejak tahun 2008. Saya juga memiliki usaha kos-kosan di Km 15 dekat Kampus Institut Teknologi Kalimantan (ITK),” bebernya.

Dalam seminggu, lanjut Yuni, dia mampu membuat 1.500 tahu dalam seminggu atau 500 keripik yang siap kemas dan dipasarkan, dengan harga di kisaran Rp 15.000 – Rp 17.000 per pcs.

Kedepan Yuni berharap bisa membuat outlet atau  toko khusus untuk penjualan produk Keripiki Tahu Walik Borneo dan ditargetkan bisa menembus pasar ekspor mancanegara,

DIMSUM MENTAI MISS AYA

Sementara Dimsum Mentai Premium Pappa Mayoo, yang dimiliki Miss Aya, meski baru dirilis usai lebaran Idul Fitri tahun lalu, namun kini sudah merebut pasar luas di Balikpapan. “Saya sudah menjalani bisnis kuliner sejak lama. Namun, makan sehat Dimsum memang baru saya luncurkan usai lebaran,” kata Miss Aya yang juga berprofesi sebagai guru bimbingan belajar (bimbel) ABC di Jalan 21 Januari Balikpapan Barat ini.

Dengan komposisi 90 persen daging ayam dan bahan lainnya, Aya percaya diri memasarkan produk Dimsum Mentai buatanya. “Saya belajar otodidak membuat Dimsum ini, dengan dukungan dari keluarga dan sahabat. Alhamdulillah, saat ini Dimsum yang awalnya melayani pembelian langsung di rumah dan secara online, kini kami juga membuka outlet street food dengan tenda warna kuning di daerah Kebun Sayur,” tuturnya.

Outlet khusus berjualan ini disebut Aya merupakan strateginya, agar produk Dimsum Mentai yang kini juga banyak disukai warga luar Balikpapan, seperti dari Kukar dan Samarinda, bisa lebih dikenal konsumen. “Jadi, selain melayani pesanan secara online melalui media sosial, kami juga jemput bola dengan berjualan langsung melalui tenda street food dengan warna kuning mencolok, agar lebih cepat dikenali Masyarakat yang lewat di kawasan Kebun Sayur Balikpapan,” ucapnya.

Disebut Dimsum Mentai Pappa Mayoo, menurut Aya memang dibuat ekslusif, lengkap dengan saus tartar dan sambal khusus. “Kami juga buat produk Rice Mentai yang sering dipesan konsumen untuk acara khusus seperti ulang tahun dan lainnya. Juga produk Kani Crab dengan campuran seafood dari udang, kepiting, ikan dan ayam, yang jarang ditemukan di Balikpapan,” ujarnya.

Produk Dimsum Mentai dan Kani Crab buatan Aya memiliki citarasa khas dan berkualitas, yang sejatinya tidak kalah dengan produk Dimsum yang selama ini banyak dikenal dan diawarkan di hotel berbintang dan restoran besar di Balikpapan. “Alhamdulillah, produk UMKM seperti kami juga tidak kalah kualitas dan cita rasanya dibandingkan yang sudah ada di hotel berbintang,” pungkas Aya.(*)

Penulis / Editor : Rudi R. Masykur

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *