APINDOKALTIM.COM – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto membantah anggapan bahwa ekonomi Indonesia mengalami perlambatan menjelang akhir 2026. Pemerintah justru optimistis pertumbuhan ekonomi nasional tetap berada di atas 5 persen, jauh melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi global yang diperkirakan hanya sekitar 3 persen.
Pernyataan tersebut disampaikan Airlangga usai membuka Rapat Kerja Nasional dan Konsultasi Nasional (Rakerkonas) APINDO ke-35 di Makassar, Selasa (4/8/2026).
Menurutnya, berbagai indikator makroekonomi menunjukkan fundamental ekonomi Indonesia masih kuat di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.
“Data mengatakan ekonomi kita tidak melambat. Besok kita akan lihat pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,2 hingga 5,4 persen. Ini adalah angka yang sangat baik mengingat ekonomi global hanya tumbuh sekitar 3 persen. Indonesia tidak ikut-ikutan global,” tegas Airlangga.
Airlangga menjelaskan pemerintah terus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi hingga kuartal III dan IV 2026 melalui stabilitas harga dan penguatan sektor riil.
Salah satu indikator positif adalah inflasi yang tetap terkendali. Tingkat inflasi tercatat sebesar 2,88 persen, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 3 persen.
Selain itu, sektor manufaktur juga menunjukkan perbaikan setelah Purchasing Managers’ Index (PMI) kembali berada di atas level 50 atau memasuki zona ekspansif.
“Semua indikator ini menunjukkan bahwa fundamental kita kuat. Kita harus menjaga momentum ini hingga kuartal III dan IV,” ujarnya.
Airlangga: Daya Beli Masyarakat Masih Terjaga
Menko Perekonomian juga menepis kekhawatiran mengenai melemahnya daya beli masyarakat yang disebut-sebut menjadi penyebab perlambatan ekonomi.
Menurut Airlangga, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang konsisten berada di atas 5 persen membuktikan kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi berjalan efektif.
“Kekhawatiran soal perlambatan itu tidak terbukti. Kemarin kita tumbuh 5,17 persen dan besok kita akan lihat angkanya tetap di atas 5 persen,” katanya.
Ia menambahkan, stabilitas harga minyak dunia turut memberikan ruang fiskal bagi pemerintah. Selama harga minyak masih berada di bawah asumsi APBN, beban subsidi energi dinilai tetap terkendali.
“Selama harga minyak di kisaran US$100 per barel, subsidi kita relatif masih aman. Ini yang membuat daya beli masyarakat dan sektor riil tetap terjaga,” jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Airlangga mengapresiasi penyelenggaraan Rakerkonas APINDO ke-35 di Makassar. Ia menilai pemilihan ibu kota Sulawesi Selatan tersebut strategis untuk memperkuat kolaborasi pemerintah dan dunia usaha dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Ketua Umum APINDO, Shinta Widjaja Kamdani, mengatakan Makassar dipilih sebagai tuan rumah karena merupakan pusat konektivitas dan gerbang utama kawasan Indonesia Timur.
“Makassar adalah gerbang Indonesia Timur dan hub-nya Indonesia Timur ada di Makassar. Kesiapan daerah juga sangat penting,” ujar Shinta.
Menurutnya, potensi investasi dan pertumbuhan ekonomi di kawasan timur Indonesia menjadi salah satu pertimbangan utama dalam penetapan lokasi Rakerkonas APINDO tahun ini.
Pemerintah berharap sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha terus diperkuat agar ekonomi Indonesia mampu mempertahankan tren pertumbuhan positif dan menutup tahun 2026 dengan pertumbuhan di atas 5 persen.
Selain Menko Airlangga Hartarto, Rakerkonas juga dihadiri Menko Pangan Zulkifli Hasan,Menaker Yaseierli, Menteri Hukum, Supartamn Andi Agtas, Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, sejumlah anggota DPR RI, kepala daerah dan 5 perwakilan negara sahabat yakni Singapura, China, India, Hong Kong dan Uni Eropa. (*)

