APINDOKALTIM.COM – Program Podcast Apindo Kaltim Channel kini juga menghadirkan narasumber dari kalangan pelaku usaha menengah kecil dan mikro (UMKM). Sebagian kisah pelaku UMKM yang diundang, dikupas mulai edisi ini secara bersambung.

Berawal dari hobi memasak, sosok pria multi talenta pensiunan petugas kepolisian ini, justru berhasil merintis usaha kuliner. Produknya dinamai Dimsum Hoki Balikpapan. Modal awalnya, kata Suharto tidak lebih dari Rp 2 juta.

Kisah membuka Dimsum Hoki juga didasari tipikal masyarakat, yang selalu hobi dengan munculnya produk baru, utamanya di bidang kuliner. Namun, umumnya produk baru yang ada, juga cepat pula menghilang.

“Saya mulai usaha dimsum 5 tahun lalu. Awalnya hanya menggiling 6 kg ayam dan ternyata prospeknya bagus.Kini dalam seminggu mampu menggiling ayam di atas 20 kg. Peluangnya bagus, karenanya saya makin serius menekuni bisnis ini,” tuturnya.

Pilihan menu kuliner dimsum, disebutnya sebagai trik usaha. Yang membuatnya eksis lebih 5 tahun. Caranya, dengan menjaga mutu makanan, rasa atau taste yang mengikuti standar produk dimsum yang biasa ditemukan di hotel dan restro mewah. “Tentu, kami juga menentukan segmen pasar yang jelas. Karena dimsum memang dikenal untuk kalangan menengah ke atas. Bagaimana Masyarakat banyak bisa menikmati juga produk dimsum yang sehat, utamanya anak-anak dan kalangan remaja,” ujarnya.

Restro atau outlet untuk memajang produk dimsum juga dibuka di depan rumah di kawasan Gunung Polisi Balikpapan. Suharto juga melakukan penjualan secara online, dengan mengajak pengemudi ojek online. “Selain konsumennya tambah meluas, saya juga memberikan peluang tambahan buat kawan-kawan  ojek online,” ucapnya.

Produk dimsum Hoki miliknya kata Suharto, juga pernah dibawa sampai ke Yaman dan ada juga pesanan dari Surabaya dan kota lain di luar Balikpapan. Selain Dimsum, dia juga mengeluarkan menu lain, yakni Mie Hoki, yang dibuat lebih sehat dan disukai anak-anak dan remaja.

Kuncinya, lanjut dia, wajib menjaga rasa dan standar kualitas Dimsum dan Mie Hoki yang ditawarkan. “Sebagian besar pelanggan kami menyampaikan hal itu. lima tahun rasa dan tastenya tidak berubah hingga sekarang,” ujarnya.

Kendala terbesar pelaku UMKM di Balikpapan, utamanya yang bergerak di produk kuliner, diakuinya dalah fluktuasi harga bahan material, yang terkadang sulit diprediksi.Misalnya harga ayam yang awalnya Rp 30 ribuan per kg, kini sudah di atas Rp 50 ribuan per kg.

Ditanya tentang kompetisi kuliner yang makin ketat, dengan masuknya produk dan brand ternama dari luar Balikpapan, Suharto menilai, pihaknya tetap mampu bersaing, karena unggul dari sisi taste. (*)

Penulis / Editor : Rudi R.Masykur

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *