APINDOKALTIM.COM – Persaingan bisnis ritel khususnya di minimarket dan supermarket di Kaltim utamanya Balikpapan, makin sengit belakangan ini. Masuknya pemain grup konglomerasi besar Jakarta yang berani membuka minimarket hingga ke pelosok kampung dan pingiran kota, tidak hanya membuat pengusaha lokal “menjerit”, tapi juga pengusaha kecil dan menengah seperti warung dan toko kelontongan banyak yang gulung tikar.
“Kami sudah merasakannya sejak 10 tahun terakhir. Namun kompetisi bisnis ya berlaku seperti itu. Meski kami berharap, pemerintah selaku pemegang kunci regulator tetap hadir, melakukan pembelaan untuk melindungi pengusaha lokal,” kata Jeffy Yova Cahyali, Owner Yova Supermart saat menjadi narasumber di program Podcast Apindo Kaltim Channel, Kamis 7 Agustus 2025.
Menurut Dirut PT. Yova Maju Sentosa ini, ketatnya kompetisi bisnis ritel di sektor usaha minimarket dan supermarket di Balikpapan memang tidak bisa dihindari. Dibukanya keran perizinan untuk masuknya pemain besar dari Jakarta, diakuinya memang terus memanas hingga saat ini. “Tentu kami dituntut untuk terus melakukan berbagai inovasi dan terobosan, agar tetap bisa eksis dan bertahan. Termasuk selalu update dengan pelayanan digitalisasi dan jemput bola, agar konsumen tetap loyal, yang jadi market utama kami,” kata pengusaha kelahiran Balikpapan ini.
Kompetisi sudah berlangsung sejak 2010 dan kompetitor sudah masuk lebih dulu. Jumlahnya juga makin banyak di bisnis ritel. “Tentu kami dituntut lebih kreatif, mengikuti perubahan zaman dan tren serta teknologi. Sehingga kitab bisa adaptasi dengan perubahan kompetitor,” ujarnya.
Sebagai pebisnis ritel dan distributor, kata Jeffry, pihaknya juga mengelola distribusi produk 17 pabrik di wilayah Balikpapan. Namun dengan serbuan dari ritel nasional, terjadi penurunan omzet dari warung kecil dan toko kelontongan. Karena itu, tegas Jeffry, diperlukan support dari pemerintah untuk regulasi dan pembatasan operasi ritel nasional.
Sebagai pemain moden lokal, Yova Supermart disebutnya berusaha bersaing dengan segala strategi. “Regulasi berupa pembatasan minimarket nasional yang buka di Balikpapan, diharapkan bisa lebih clear. Namun faktanya, memang makin jauh panggang dari api,” tutur dia.
Imbas yang paling terasa, kata Jeffry sebenarnya terjadi pada tradisional market seperti warung dan toko kelontongan. Data statistik jelas menunjukkan adanya penurunan distribusi untuk sektor tradisional market.
Hanya saja, sebagai pebisnis lokal yang besar di daerah, ucap Jeffry, kontribusinya juga jelas dalam memberdayakan warga lokal sebagai pekerja. “Karyawan kami 95 persen warga lokal di kisaran 200 – 300 orang,” tuturnya.
Yova sudah dibangun tahun 2010 atau 15 tahun. Sekarang punya dua supermarket dan 13 minimarket, Sebagian besar di Balikpapan. Cabang lain di kawasan IKN , IPU Mart bekerjasama dengan karyawan pensiunan PUPR, fasilitas bagi pekerja IKN. Buka di Petung Penajam dan terbaru di Polluk Mal Cikarang. “Kami berani lihat peluang di luar Balikpapan,” ujarnya.
Keberanian Yova Supermart bertarung di luar Balikpapan, khususnya di sebuah mal di Cikarang, disebut Jeffry jadi kebanggaan bagi dirinya. Selain kompetisi di Balikpapan makin padat, jemput bola bertarung hingga ke Cikarang, diakuinya juga bagian dari strategi bisnis.
KUNCINYA INOVASI
Saat ini Yova Supermart juga terus melakukan inovasi produk dan pelayanan. Misalnya, Yoline online shop yang bisa dilivert hingga ke rumah konsumen, apartmen dan lainnya. “Salah satu kiat kami dalam melayani masyarakat, tanpa harus datang langsung berbelanja di Yova. Tapi kebanyakan masyarakat kita tipikalnya meman masih suka berwisata sambil berbelanja,” ucapnya.
Ditanya diversifikasi usaha, dia menyebut saat ini pihaknya juga membuka Yova Bakery, melayani snack box dan belanja produk bakery di Yova. “Bakery kita displaynya tidak lebih dari 2 hari atau selalu fresh atau baru. Yova juga merangkul pelaku UMKM lokal untuk memajang produknya di Yova Supermart. Sehingga, bisa bersama-sama maju dengan Yova,” paparnya.
Pihaknya menggeber program edukasi produk, seperti produk untuk diabetes dan kolesterol. Sehingga masyarakat bisa lebih sehat bahagia.(*)
Penulis / Editor : Rudi R.Masykur
